Pemuda Gayo Ini Dukung Doto Zaini Lanjutkan Kepemimpinan di Aceh
Rabu, 30 November 2016
Gubernur: Perdamaian harus dirawat dan dijaga oleh semua pihak
![]() |
| Gubernur dan JK |
BANDA ACEH – Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah menghimbau semua pihak agar mempunyai inisiatif dan tekad yang kuat dalam menjaga dan merawat perdamaian di Aceh. Hal ini disampaikan Zaini Abdullah saat memberi sambutan di acara puncak peringatan damai MoU Hensinki di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu, 15 November 2015.
“Saya menghimbau kepada masyarakat Aceh agar jangan hanya bergantung kepada pemerintah dalam hal penguatan perdamaian ini. Jika ada hal yang belum selesai, mari kita selesaikan dengan cara yang bijak. Jika ada pihak yang ingin mengganggu perdamaian ini, kita harus lawan dan harus kita lenyapkan dari bumi Aceh tercinta ini,” katanya.
Gubernur Aceh menegaskan kepada siapapun yang mencoba mengganggu perdamaian di Aceh, maka harus dijadikan sebagai musuh bersama. “Dengan demikian tidak seorang pun yang ingkar dari kesepakatan ini, dan tidak seorang pun yang mencoba untuk menggagalkannya,” tegas Gubernur.
“Kisah jalan menuju proses perdamaian Aceh yang berakhir dengan perjanjian damai di Helsinki adalah cerita hati, cerita dari sanubari, cerita masyarakat dari pelosok aceh, sudah banyak manusia baik dari rakyat aceh, para kombatan dan juga aparat keamanan yang menjadi korban dari konflik yang berkepanjangan di Aceh,” ujarnya.
Perdamaian yang telah dirasakan oleh masyarakat Aceh selama ini menurut Gubernur harus disyukuri oleh semua pihak dengan menjaga kebersamaan dan kekompakan seluruh elemen rakyat dan seluruh komponen bangsa.
“Insya Allah perjuangan itu akan membawa kesejahteraan, kemakmuran, dan kedamaian yang menjadi cita-cita rakyat bumi serambi Mekkah ini,” harap Gubernur.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur berterima kasih kepada pihak asing dan pemerintah yang telah terlibat lansung dalam proses pembangunan perdamaian Aceh, terutama kepada mantan Kepala Aceh Monitoring Misssion (AMM), Peter Fieth dan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla yang hadir pada acara tersebut.
Gubernur Zaini mengatakan sangat terharu ketika mendengar pernyataan dari masyarakat internasional dan pemerintah yang siap berkomitmen dalam menjaga dan merawat perdamaian Aceh. “I am very touched by Peter Feith’s commitment in mantaining peace in Aceh,” ujar Gubernur.
Perdamaian Aceh ibarat bunga, yang harus disiram
Gubernur Zaini mengibaratkan perdamaian Aceh sebagai bunga yang harus selalu disirami agar bunga tersebut tumbuh segar. Menurutnya, perjuangan untuk memuluskan perdamaian ini bukanlah sesuatu hal mudah.
“Selama 10 tahun terakhir ini kita kerap menghadapi berbagai krikil yang mungkin saja berpotensi mengusik proses damai yang sedang berjalan. Misalnya saja, soal lambannya keluar sejumlah regulasi dan kebijakan sebagaimana yang disepakati dalam perjanjian Helsinki dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh,” ujar Gubernur.
Namun walaupun mendapat berbagai tantangan tersebut, Gubernur Aceh menyatakan yakin bahwa semua regulasi dan kebijakan yang diamanahkan oleh UUPA dan MoU Helsinki, dapat direalisasikan oleh Pemerintah.
“Baru-baru ini, Pemerintah telah menerbitkan tiga regulasi penting untuk penguatan otonomi Aceh, yaitu: Peraturan Presiden tentang Penetapan Badan Pertanahan sebagai Perangkat daerah; Peraturan Pemerintah tentang Sistem Bagi Hasil Minyak dan Gas; dan Peraturan Pemerintah tentang Kewenangan Pemerintah yang Bersifat Nasional di Aceh,” katanya.
Terhadap tiga regulasi tersebut, Gubernur mengatakan masih terdapat beberapa usulan yang harus direvisi di tingkat pusat. Kerana itu, Gubernur meminta kepada Bapak Presiden dan juga Bapak Wakil Presiden untuk dapat segera dilakukan revisi terhadap beberapa usulan yang telah diajukan dari Pemerintah Aceh.
sumber:http://www.ajnn.net/news/gubernur-perdamaian-harus-dirawat-dan-dijaga-oleh-semua-pihak/index.html
Gubernur minta Perhumas Aceh integrasikan kinerja lembaga dengan kepentingan publik
BANDA ACEH- Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Aceh Periode 2013 – 2017 yang diketuai Helmi Hass, SH resmi dilantik dan dikukuhkan, Kamis (20/2) di Gedung II Sultan Selim Aceh Community Center (ACC) Banda Aceh.
Prosesi pelantikan dan pengukuhan dilakukan oleh Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), Prita Kemal Gani, MBA, MICPR, APR.
Sebagai cabang Perhumas terbaru, pengurus BPC Aceh terdiri dari para tokoh komunikasi dan Humas senior Aceh. Tercacat sebagai penasehat, diantaranya; Hasbi Abdullah, Nurdin F Joes, Tarmilin Usman dan Oemardi.
Sedangkan dijajaran Pengurus meliputi, ketua Helmi Hass, wakil Ketua Ir. Sanasi, Rusydi MD, Said Kamaruzzaman, kemudian sekretaris Munarwansyah, wakil sekretaris Asriani, Drs. Saiful Bahri, dan Wirzaini Usman, dan bendahara dipercayakan kepada Amal Hasan
Ketua umum BPP Perhumas Prita Kemal Gani, dalam sambutannya mengatakan, tahun 2015 akan membawa tantangan baru bagi bangsa Indonesia, karena pada tahun itu Indonesia akan memasuki Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community – AEC 2015).
“Masalahnya, apakah SDM kita siap bersaing dengan SDM asing itu? Itu sebabnya kita harus segera berbenah dan melakukan aksi-aksi nyata, seperti meningkatkan standar kompetensi yang dibutuhkan bukan saja di dalam negeri, tetapi di tingkat internasional,” ujar Prita.
Hal ini, tambah Prita, menuntut kesamaan pandangan dan kerjasama bahu-membahu antara pemerintah pusat dan daerah, pengusaha, dan segenap pemangku kepentingan lain, termasuk organisasi profesi.
Dikatakan, dalam upaya meningkatkan kompetensi praktisi Public Relations (PR) di Indonesia, Perhumas telah mengadakan serangkaian kegiatan seperti program Akreditasi Profesi PR dan pelatihan bagi praktisi PR swasta maupun pemerintahan.
Selain itu, menghadapi Komunitas ASEAN 2015, Perhumas juga tengah menyiapkan pelaksanaan program Sertifikasi Kompetensi bagi praktisi PR, yang nantinya dilaksanakan melalui pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi.
“Izin penyelenggaraan dari Badan Sertifikasi Profesi (BNSP) sudah kami peroleh. Kini tinggal menyelesaikan persiapan teknis dan administrasi oleh kami, Perhumas, dan asosiasi lain seperti Bakohumas,” ungkapnya.
Lebih lanjut Prita mengemukakan, sebagai asosiasi tenaga Public Relations (PR), Perhumas dikenal di dunia dengan nama Public Relations Association of Indonesia. Organisasi yang kini memiliki sekitar 7.500 anggota — yang terdiri dari praktisi PR, Corporate Communications, pengajar komunikasi di 32 cabang BPC seluruh Indonesia — ini didirikan pada tanggal 15 Desember 1972.
Ketua Pengembangan Cabang Perhumas Dr. Syafiq Basri Assegaff, MA, IAPR menyatakan Perhumas boleh bangga dengan berdirinya BPC Perhumas Banda Aceh.
“Cabang Banda Aceh ini punya makna luar biasa, karena dua hal. Pertama, posisi Aceh yang strategis, yakni dekat — jauh lebih dekat dibanding Jakarta — dengan negara tetangga anggota ASEAN seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Kedua, karena kepengurusan BPC Banda Aceh terdiri dari para ahli dan senior yang dikenal handal dalam bidang komunikasi dan PR,” kata Syafiq.
Sementara Gubernur Aceh dr H. Zaini Abdullah dalam sambutan yang dibacakan Asisten Administrasi Umum Muzakkar, SH, M.Si berharap Pekerja bidang Humas atau yang lebih dikenal dengan istilah Public Relation memiliki kemampuan komunikasi yang baik, wawasan yang luas, pergaulan yang lues, serta prilaku yang santun dan ramah.
Gubernur juga meminta Perhumas membantu penguatan perdamaian dan kerja kerja positif Pemerintah Aceh terkait sosialisasi MoU Helsinki dan UUPA terutama kepada jajaran di luar Aceh, komunitas nasional dan masyarakat international.
Gubernur Zaini juga meminta para praktisi Humas terus meningkatkan kapasitas diri dan berdiskusi mencari solusi dalam memecahkan masalah komunikasi. Kehadiran Perhumas pula diharapkan bisa memperkuat jaringan dan pengetahuan, sehingga berbagai masalah dan dinamika yang berkembang di masyarakat bisa diatasi melalui teknik komunikasi yang diperankan para humas.
“Khusus bagi Aceh, harapan saya kehadiran organisasi ini tidak hanya penting bagi para humas, tapi juga penting bagi Pemerintah dan rakyat Aceh sebagaimana turut juga mensosialisasi perdamaian, UUPA dan kerja positif pemerintah Aceh. Perhumas Aceh harus menjadi salah satu komunitas yang dapat mempererat persaudaraan di masyarakat dan memperkuat perdamaian di Aceh,” pungkasnya.
Myanmar belajar perdamaian dari Aceh
![]() |
| Chief Minister of Karen State, Daw Nan Khin Htwe Myint dalam pertemuannya dengan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah di Pendopo Gubernur, Banda Aceh, Jumat (22/4). (Ist) |
Kampanye di Lhokseumawe, Zaini Abdullah Kembali Sindir Dana untuk Eks Kombatan

LHOKSEUMAWE – Calon Gubernur Aceh, Zaini Abdullah melanjutkan kampanye dialogisnya di Rumah Pemenangan Pasangan Zaini Abullah dan Nasaruddin (AZAN), Kota Lhokseumawe, Selasa (29/11).
Kampanye dialogis tersebut, Zaini Abdullah mengajak masyarakat untuk menjajaki sejarah panjang Aceh, yang membawa arti dari masa ke masa. Katanya, tanpa itu semua Aceh tidak akan mendapatkan kesuksesan.
Zaini Abdullah mengatakan masyarakat Aceh ingin Aceh kembali berjaya seperti masa lalu, yaitu pada masa Sultan Iskandar Muda yang memperlihatkan begitu gagahnya Aceh untuk memperjuangkan kesejahteraan.
Selain itu, Zaini Abdullah juga mengatakan sejak Aceh mendapatkan perdamaian pada 15 Agustus 2005, yang sudah lebih dari 10 tahun lamanya, banyak yang sudah didapatkan Aceh berkat hasil perjuangan. Salah satunya, Aceh bisa membuat partai politik.
“Yaitu Partai Aceh (PA). Pasti saudara-saudara bertanya kenapa saya maju melalui jalur perseorangan, bukan melalui Partai Aceh. Disini saya katakan Pimpinan Partai Aceh tidak lagi mengikuti AD-ART Partai Aceh. Walaupun saya Tuha Peut tapi saya tetap harus mencari jalur lain untuk maju. Jalur perseorangan tidak tidak mempengaruhi kita. Kita akan perbaiki Partai Aceh,” kata Zaini Abdullah.
Gubernur Aceh non aktif ini juga mengatakan tujuannya untuk maju kembali pada Pilkada 2017 mendatang dihadapan seribu massa yang hadir.
“Pertama sekali saya sudah memperjuangkan dan membuat sebuah program untuk kesejahteraan eks kombatan, tapi anggaran yang saya berikan kesitu tidak dikelola dengan baik, tidak amanah. Dalam hal ini insyaallah untuk saya meneruskan capaian program yang sudah kita buat, untuk meningkatkan daya beli tingkat perekonomian masyarakat,” kata Abu Doto—sapaan Zaini Abdullah.
Dirinya mengaku sudah coba untuk mensejahterakan eks kombatan, tapi tidak berhasil. Dirinya berduka cita karena tidak sukses menjalankan program yang sudah dibuat.
“Saya coba untuk sejahterakan mereka tapi tidak terwujud. Peng kalaeuh loen puduk, hana berhasil Orang yang saya suruh untuk mengelola program itu tidak amanah,” ungkapnya.
Selain itu Zaini Abdullah juga menekankan pencapaian semasa pimpinannya. Dia berjanji akan melanjutkan program yang belum selesai dikerjakan. Seperti melanjutkan pembangunan rumah untuk dhuafa, meningkatkan pendidikan dayah, memberi kesempatan sekolah bagi anak-anak kurang mampu.
“Pertanian juga menjadi fokus kam, wakil yang saya ambil ini adalah ahli di bidang pertanian. Pak Nas adalah mantan Bupati Aceh Tengah dua periode yang sudah hasil membangun daerahnya. Kami akan kembangkan pertanian, irigasi, dan percetakan sawah baru,” tegasnya
Zaini juga menyampaikan pencapaian lain selama ini seperti Pergub Cuti Hamil selama 6 bulan, Qanun dan Pelantikan Komisioner KKR, dan Pembangunan Masjid Raya Baiturrahman yang bersejarah untuk anak cucu di masa depan.
Doa Kaum Ibu untuk Kemenangan Zaini Abdullah

LHOKSEUMAWE – Calon Gubernur Aceh, Zaini Abdullah melakukan kampanye dialogis di Kota Lhokseumawe, Selasa (29/11). Sekira seribu orang massa yang didominasi ibu-ibu.
Usai menyampaikan orasi, Zaini Abdullah menyambangi massa. Para massa itu ikut mengangkat tangan mereka, yang menunjukkan angka empat merupakan nomor pasangan Zaini Abdullah dan Nasaruddin pada Pilkada 2017 mendatang.
Ada yang unik ketika itu. Salah seorang ibu ibu yang mendekat kepada Zaini, dan mendoakan Abu Doto–sapaan Zaini Abdullah–menang kembali menjadi Gubernur Aceh pada pilkada nanti.
“Kami doakan Abu Doto menang lagi menjadi gubernur,” kata seorang ibu yang tak diketahui namanya, sembari menyalami Zaini Abdullah usai acara kampanye dialogis tersebut.
Kepada Zaini Abdullah, ibu tersebut meminta, jika nantinya Abu Doto memimpin Aceh kembali keua kalinya, agar dia mendapatkan bantuan rumah dhuafa. Karena pada bantuan yang selama ini dia belum mendapatkannya. Padahal dia sangat membutuhkan itu
Sementara itu, ketika orasi Zaini Abdullah juga menyebutkan tentang bantuan rumah kaum dhuafa. Kurang lebih 14 ribu rumah dhuafa sudah dibangun, namun jika masyarakat belum mendapatkannya, kata Zaini laporkan dan buat sesuatu dalam bentuk proposal.
“Insyaallah kita akan lanjutkan kembali program pembangunan rumah kaum dhuafa itu. Pilih nomor empat buk. Doakan kami menang,” kata Abu Doto.
Bersama Pemuda, Zaini Abdullah Ngopi di Sudut Kota Lhoksumawe

LHOKSEUMAWE – Calon Gubernur Aceh, Zaini Abdullah minum kopi dengan para pemuda yang tergabung dalam Barisan Relawan Zaini Abdullah (Baraza) Kota Lhokseumawe, di Warkop Distric 51, Selasa (29/11) sore.
Diskusi santai di sudut Kota Lhokseumawe itu, Gubernur Aceh non aktif itu memaparkan terkait tugas dan strategi kerja Baraza untuk memenangkan pasangan calon Zaini Abdullah dan Nasaruddin (AZAN) pada Pilkada 2017 mendatang.
“Arahan saya untuk kita selalu kompak, terus bekerja, sebab hanya kekompakan lah kita bisa meraih kemenangan,” kata Zaini Abdullah.
Selain itu, di hadapan puluhan massa tersebut, Abu Doto—sapaan Zaini Abdullah juga–memaparkan beberapa program yang akan dirinya buat terkait dengan pengembangan untuk kemajuan para generasi muda di Aceh.
Dikatakan Zaini Abdullah, moratorium tambang yang dilakukan selama menjabat ini merupakan modal untuk generasi muda yang akan datang. Kata Zaini tidak ada lagi izin-izin tambang baru yang akan diberikan.
“Selain itu kita akan memperkuat dari sektor pertanian dan kelautan. Jadi izin-izin tambang di moratorium,” tegas Zaini Abdullah.
Sementara itu, Ketua Baraza Kota Lhokseumawe, Faisal Fuadi mengatakan menaruh harapan besar kepada Zaini Abdullah. Katanya, mereka sangat siap untuk memenangkan Abu Doto dengan harapan lapangan kerja bagi generasi Aceh.
“Kalau Abu (Zaini Abdullah) menang, kami hanya ingin lapangan kerja ada. Seperti Pabrik KKA disini itu katanya mau hidup lagi. Tapi belum fungsi. Harapan kami lapangan kerjalah,” kata Faisal.
Zaini Prioritaskan Pembangunan Tiga Sektor Ini
20:06 WIB, 29 November 2016 ·

LHOKSEUMAWE – Calon Gubernur Aceh Zaini Abdullah menjanjikan tiga program prioritas untuk membangun perekonomian mikro. Dia juga berjanji akan melanjutkan program andalan saat ini.
“Sejumlah program pengentasan kemiskinan akan terus kita lanjutkan. Hal ini sangat berkaitan erat dengan pekerjaan sebagian besar masyarakat Aceh, yakni nelayan, petani dan peternak,” kata Zaini Abdullah saat meresmikan Rumah Pemenangan (AZAN) di Lhokseumawe, Selasa (29/11).
Selain itu, Zaini juga mengaku telah mengusulkan program 15 juta unit rumah kaum duafa dan saat ini berjalan terus dibangun.
Dia juga berjanji akan terus melaksanakan program yang selama ini dinikmati masyarakat, seperti penerapan syariat Islam, pembangunan jalan, pembangunan rumah ibadah dan pemberdayaan dayah, peningkatan kualitas pendidikan, pengentasan pengangguran dan modernisasi dan perbaikan layanan kesehatan.
Untuk program peningkatan syariat Islam, Zaini merencanakan musyawarah besar alim ulama seluruh Aceh. Mereka akan dimintai pendapat untuk membenahi sistem tatanan syariat Islam sesuai dengan ajaran Islam.
Selain itu, Zaini juga berjanji mendongkrak perekonomian petani dalam mendistribusikan hasil panennya dengan mudah ke kota-kota. Di bidang pendidikan, Pemerintah Aceh ke depan akan memperbanyak sekolah kejuruan.
Blusukan ke Pasar, Zaini Abdullah Tampung Aspirasi Warga
23:57 WIB, 29 November 2016 ·

LHOKSEUMAWE – Calon Gubernur Aceh, Zaini Abdullah blusukan ke Pasar Kota Lhokseumawe, Selasa (29/11) sore. Zaini Abddullah bertolak ke pasar usai ‘Ngopi’ dengan Barisan Relawan Zaini Abdullah (Baraza) setempat.
Dalam blusukan tersebut, Zaini Abdullah menyambangi para pedagang dan pembeli yang lalu lalang di pasar tersebut. Bahkan, tak segan-segan Zaini membeli beberapa barang dagangan milik rakyatnya itu. Seperti telur ayam, pepaya, dan ulekan, sendok masak.
Berdasarkan pantauan, Zaini Abdullah membeli telur ayam tersebut pada seorang ibu ibu yang usianya lebih tua dari umur Zaini Abdullah sendiri, berjualan di sudut pasar dalam kedai berukuran 2×1 meter persegi.
Selain itu, Jalaluddin, seorang pedagang yang berjualan di pasar tersebut juga menyampaikan keluhan selama ini yang mereka rasakan di pasar Kota Lhokseumawe tersebut kepada Zaini Abdullah. Katanya, Jalan Perniagaan di pasar tersebut sudah dua tahun lamanya tak kunjung di aspal, padahal mereka sudah melapornya.
“Keluhannya Abu sangat banyak dan kalau hujan air tergenang. Kami sudah lapor ke wali kota, tapi tidak ada tanggapan, pemko tetap membuat jalan dua jalur tapi kami tidak butuh itu, tidak perlu dua jalur yang penting beraspal,” kata Jalaluddin.
Sementara itu, Zaini Abdullah menyarankan kepada rakyatnya tersebut untuk membuat surat intruksi keluhan kepada Wali Kota Lhokseumawe, yang kemudian diteruskan ke Gubernur Aceh dan DPR Aceh.
“Buat surat intruksi keluhan kepada wali kota, dan teruskan ke gubernur dan DPRA, nanti kami lihat kenapa tidak selesai jalannya,” kata Zaini Abdullah.
Tak hanya itu, beberapa warga di pasar tersebut juga meminta kepada Zaini Abdullah untuk bantuan pembangunan masjid di komplek pasar tersebut. Dan seorang warga yang tidak bisa bicara memperlihatkan kondisi lehernya yang udah bolong tidak bisa bicara.
“Saya mau mintak tolong untuk operasi leher saya,” kata pria paruh baya itu dengan isyarat gerakan tangannya.




